apakah wine haram

Apakah Wine Haram? | Bolehkan Seorang Muslim Minum Wine Tanpa Alkohol?

Wine adalah minuman beralkohol yang terbuat dari fermentasi anggur atau buah-buahan lain. Menariknya, saat ini banyak beredar istilah “Wine Non Alkohol” yang disinyalir halal dikonsumsi seorang muslim karena tanpa adanya kandungan alkohol di dalamnya. Apa benar begitu?

Ulasan kali ini akan membahas detail terkait apakah wine haram? Bagaimana dengan wine tanpa alkohol? Dan bolehkah seorang muslim mengonsumsi wine tanpa alkohol? Informasi selengkapnya simak ulasan di bawah ini!

Apakah Wine Haram?

Sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu bahwa minuman yang diharamkan adalah yang mengandung apapun zat memabukkan atau biasa disebut sebagai khamar, dari mayoritas ulama sendiri telah bersepakat atas keharamannya. Kemudian muncul berbagai pertanyaan seperti “Khamar seperti apa saja yang diharamkan?”, “Kalau sedikit dan tidak membuat mabuk apa juga haram?”, dan masih banyak pertanyaan semacamnya muncul. 

Berbicara tentang kadar dan kriteria khamar ini cukup kompleks dan dibutuhkan diskusi para ahli. Tidak bisa semerta-merta diputuskan halal atau haramnya. Dengan pembahasan khamar, para ahli fiqih tidak bisa mengabaikan pembahasan minuman nabidz. Apakah itu nabidz? Nabidz secara bahasa diartikan “zat yang didiamkan” atau mungkin bahasa sekarang bisa disebut difermentasikan sehingga dihasilkan minuman olahan yang berubah cita rasanya. Seperti wine yang diperoleh dari fermentasi anggur, misalnya.

Beberapa waktu belakang ramai munculnya minuman wine yang diklaim halal karena tanpa mengandung alkohol. Contohnya minuman bermerk Espora yang diproduksi dari Spanyol. Pihak produsen mengklaim jika minuman tersebut halal dan tidak beralkohol bahkan terang-terangan mengatakan sudah bersertifikat halal. Informasi dari pihak Espora menyatakan bahwa wine ini dibuat melalui proses fermantasi yang sama seperti proses pembuatan wine pada umumnya. Namun, yang membuat Espora ini berbeda dan tidak mengandung alkohol, yaitu dengan mengatur waktu yang diperlukan dalam melakukan fermentasi. Lantas dengan ini, apakah wine haram?

Jika diulas menurut pendapat kalangan Malikiyah, Syafiiyah, serta pengikut mazhab Ahmad bin Hanbal cukup tegas bahwa minuman yang berpotensi memabukkan, sedikit atau banyak, ia tetap diharamkan. 

Kemudian, diperoleh dari kitab fiqih klasik yang dicatat oleh KH. Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Kriteria Halal Haram untuk Pangan, Obat dan Kosmetika menurut Al Quran dan Hadits. Bisa kita pahami pembahasan tentang khamar dan nabidz ini dalam cakupan perasan anggur, kismis dan kurma. Kedua jenis minuman ini ditengarai sebagai minuman yang memiliki potensi memabukkan. 

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda, “Setiap yang muskir (memabukkan) adalah khamar, dan setiap yang muskir adalah haram.”

(HR. Muslim)

Selain itu ada juga hadits yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah dalam Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, serta muhaddits lainnya, bahwa Nabi bersabda,

“Sesuatu (minuman) yang banyaknya dapat memabukkan, maka sedikitnya pun haram.”

(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)

Melalui dua hadits di atas jumhur ulama berpendapat bahwa minuman yang memabukkan itu haram, apapun jenisnya, berapapun kadarnya, serta apakah meminumnya sampai mabuk atau tidak. Dalam hal ini, termasuk wine tanpa alkohol. Karena minuman tersebut berpotensi memabukkan peminumnya.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Ketua Komisi Fatwa (KF) MUI, Prof. Dr.H. Hasanuddin AF, MA., menanggapi tentang beredar minuman wine tanpa alkohol yang diklaim halal, dirinya menegaskan bahwa produk tersebut tak dapat dilakukan sertifikasi halal. Ia juga memberikan rambu-rambu, bahwa pihaknya tidak akan memproses sertifikasi halal untuk produk tasyabbuh atau menyerupai dengan produk yang diharamkan dalam Islam. Artinya, wine tanpa alkohol ini meskipun sudah diklaim tanpa alkohol tetap saja tidak bisa dinyatakan halal.

Adapaun sebagai informasi tambahan, SK Direktur LPPOM MUI secara rinci menjelaskan bahwa nama produk yang tidak dapat disertifikasi halal meliputi nama produk yang mengandung nama minuman keras. Di kelompok ini termasuk, wine non alkohol, sampanye, rootbeer, es krim rasa rhum raisin, dan bir 0% alkohol, pasti tak bisa lolos sertifikasi halal oleh MUI.

Dari ulasan di atas dengan berbagai kajian dan pendapat ahli, kita bisa simpulkan bahwa wine tanpa alkohol tidak bisa diklaim halal dan tetap haram hukumnya dikonsumsi oleh seorang muslim. Meskipun produsennya sendiri telah menyatakan klaim kehalalannya, namun hal ini tidak bisa begitu saja. Produk semacam ini tidak bisa dilakukan sertifikasi halal oleh MUI karena produk tersebut sudah berpotensi memabukkan layaknya khamar, jadi sedikit banyaknya tetap haram. Alangkah baiknya kita lebih berhati-hati dalam hal ini.

Oleh karena itu sebagai seorang muslim kiranya kita lebih bijak dan cermat dalam mengonsumsi produk, memperhatikan kehalalannya, serta melihat baik-buruknya dampak ketika mengonsumsinya. Tidak semua yang diklaim oleh produsen atau khalayak umum adalah benar adanya, kita harus mengembalikan dengan fakta-fakta dan pendapat ahli yang lebih memahaminya. Semoga ulasan kali ini bisa memberikan wawasan dan gambaran terkait apakah wine haram dan diskusi terkait hal tersebut.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.